Kemarau Berkepanjangan Picu Kelangkaan Sayuran Hingga Kenaikan Harga, Aktivitas Pedagang dan Rumah Makan Terdampak
MANADO — Kemarau berkepanjangan yang merata di sejumlah daerah di Indonesia termasuk Sulawesi Utara mulai memberikan dampak terhadap sektor pertanian dan rantai pasok bahan pangan, khususnya pada komoditas sayuran.
Kondisi lahan pertanian yang mengalami kekeringan menyebabkan hasil produksi menurun drastis sehingga suplai dari petani kepada pemasok menjadi semakin terbatas.
Keterbatasan stok tersebut turut mendorong kenaikan harga sayuran di tingkat pemasok hingga pedagang pasar.
Sejumlah pedagang bahkan kesulitan mendapatkan bahan dagangan karena stok yang tersedia tidak mampu memenuhi kebutuhan pasar.
Kondisi ini juga dirasakan para pedagang di Pasar Bersehati dan Pasar Pinasungkulan serta pasar lainnya di kota Manado, sejumlah pedagang sayuran dilaporkan mengalami kesulitan memperoleh pasokan sehingga aktivitas perdagangan mereka tidak berjalan seperti biasanya.
“Biasanya kami bisa mendapatkan sayuran dalam jumlah cukup untuk dijual kembali. Sekarang stok dari pemasok terbatas, bahkan ada pedagang yang tidak kebagian bahan. Kalau bahan sedikit, harga dari pemasok juga naik dan kami harus menyesuaikan harga jual,” ujar Yanto, salah satu pedagang sayuran di Pasar Bersehati.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat pedagang berada dalam posisi sulit karena harus menjaga harga masi bisa terjangkau bagi konsumen, sementara harga dari pemasok terus mengalami kenaikan.
Hal serupa disampaikan Rudi, salah satu pemasok bahan sayuran ke sejumlah pasar. Ia mengatakan, berkurangnya hasil panen di daerah penghasil membuat pasokan yang kami terima juga ikut menurun.
“Pasokan memang berkurang karena hasil panen tidak seperti biasanya. Kami juga kesulitan mendapatkan bahan dalam jumlah banyak. Harapan kami kemarau ini segera berakhir dan hujan kembali turun secara normal, supaya petani bisa kembali berproduksi dan pasokan ke pasar kembali lancar,” katanya.
Dampak kelangkaan dan kenaikan harga tersebut turut dirasakan konsumen. Maya, seorang konsumen, mengaku harus mengurangi jumlah pembelian atau memilih jenis sayuran yang harganya relatif lebih terjangkau.
“Sekarang harga beberapa jenis sayuran terasa lebih mahal. Kalau biasanya membeli beberapa jenis sekaligus, sekarang harus memilih mana yang paling dibutuhkan. Mudah-mudahan harga kembali normal kalau pasokan sudah banyak,” ujarnya.
Hal tersebut juga dibenarkan oleh Leonardo Wangka, petugas Pasar Bersehati yang mengawasi aktivitas dan distribusi sayuran di lantai dua. Menurutnya, dalam beberapa waktu terakhir jumlah kendaraan pemasok sayuran yang masuk ke pasar mulai berkurang. Kondisi tersebut terjadi karena pasokan sayuran dari petani di daerah penghasil turut mengalami penurunan akibat kemarau berkepanjangan.
“Memang terlihat ada penurunan jumlah mobil pemasok yang masuk. Pasokan sayuran yang dibawa juga berkurang karena dari petani memang stoknya tidak sebanyak biasanya. Kondisi ini tentunya berpengaruh terhadap ketersediaan sayuran di pasar,” ujar Leonardo.
Kondisi ini tidak hanya berdampak pada pedagang dan konsumen, tetapi juga pelaku usaha rumah makan yang menggunakan sayuran sebagai salah satu bahan baku utama. Kenaikan harga dan keterbatasan pasokan membuat biaya operasional usaha ikut meningkat.
Jika berlangsung dalam waktu panjang, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi perputaran ekonomi masyarakat, khususnya sektor perdagangan, distribusi pangan, hingga usaha kuliner yang bergantung pada ketersediaan komoditas pertanian.
Para pedagang dan pemasok berharap kondisi cuaca segera membaik sehingga lahan pertanian kembali mendapatkan pasokan air yang cukup, produksi meningkat, distribusi kembali lancar, dan harga bahan pangan di pasar dapat berangsur normal.
(Humas)
